TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Dinamika Pelacuran
di Wilayah Jakarta dan Surabaya
dan Faktor Sosio Demografi
yang Melatarbelakanginya
Kasnodihardjo, Rachmalina S Prasojo, Helper SP Manalu
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Jakarta
PENDAHULUAN
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia, dampaknya mulai
terasa sejak awal tahun 1998; selain langsung pada kehidupan
ekonomi bangsa, juga berdampak terhadap berbagai aspek
kehidupan masyarakat. Krisis ekonomi mengakibatkan
turunnya pendapatan nyata penduduk akibat hilangnya
kesempatan kerja. Dampak lanjutan adalah kerawanan yang
menyangkut berbagai hal, salah satu di antaranya adalah bidang
ekonomi dan sosial.
Krisis ekonomi dapat meningkatkan jumlah penjaja seks
komersial(PSK). Karena sifat pekerjaan dan perilaku mereka,
para PSK berpotensi tertular dan menularkan penyakit menular
seksual (PMS) termasuk HIV-AIDS (Human
Immunodeficiency Virus - Acquired Immune Deficiency
Syndrome). Pekerja seks yang beroperasi di Jakarta datang dari
berbagai daerah. Suatu survai menunjukkan bahwa mereka
datang dari Jawa Timur 4%, dari Jambi 2%, dari Sumatera
Barat 6%, dari Jawa Tengah 17%, dari Jawa Barat 18% dan
D.K.I sendiri 50% (Suara Pembaruan, Maret 1999).
Menghapuskan sama sekali kegiatan para PSK seperti
misalnya rencana penutupan lokalisasi atau operasi penertiban
tampaknya tidak mungkin. Justru ini akan menimbulkan
dampak lain dan tidak menyelesaikan masalah. Barangkali
yang paling mungkin adalah tindakan agar dampak negatif
yang ditimbulkannya tidak meluas ke masyarakat, misalnya
dampak kesehatan yaitu munculnya PMS termasuk HIV-AIDS
dicegah melalui penggunaan kondom. Untuk itu perlu dipahami
latar belakang dan motivasi mereka menjadi PSK; apakah oleh
faktor ekonomis akibat krisis, faktor psikologis, biologis,
bahkan mungkin politis. Demikian pula motivasi dan alasan
mereka menggunakan dan tidak menggunakan kondom saat
melakukan hubungan seksual dengan pelanggannya. Tulisan ini
merupakan hasil penelitian tahun 2001.
METODOLOGI
Desain studi
Penelitian bersifat studi eksploratif dengan metoda
pengumpulan data kualitatif terutama dengan menggunakan
pemahaman langsung dan tidak langsung. Sumber data yaitu
orang-orang yang diminta memberikan informasi, disebut
informan. Informan pada penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi tentang apa yang ia ketahui dan juga
sedapat mungkin tentang apa yang ia alami. Maka penelitian
lebih banyak tergantung pada bahasa informan (Yudoyono B,
1992). Selain informasi diri, informan juga diharapkan dapat
memberikan keterangan lain.
Sasaran Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
Sasaran utama penelitian ini adalah wanita yang berprofesi
sebagai penjaja seks (PS) atau Pekerja Seks Komersial (PSK),
baik yang terorganisasi maupun yang tidak, yaitu mereka yang
berpraktek liar di pinggir jalan, pinggir jalan (rel) kereta api,
kafe, mal, panti pijat atau warung remang-remang. Sasaran
penelitian lain adalah mucikari (germo) atau orang-orang yang
diasumsikan mengetahui praktek keseharian wanita penjaja
seks. Penentuan informan (responden) dilakukan melalui
pendekatan lokasi yang diduga sebagai sentinel dan dipilih
secara purposif.
Pemilihan sasaran dilakukan secara insidental. Semua PSK
pada saat pelaksanaan penelitian mendapatkan kesempatan
yang sama untuk diambil sebagai sampel penelitian. Jumlah
sampel ditentukan secara kuantum yaitu 20 orang PSK di
beberapa jalan di Kota Madya Surabaya dan 20 orang PS di
beberapa jalan di DKI Jakarta yang bersedia menjadi informan
(responden). Pengumpulan data lebih ditekankan melalui
wawancara mendalam (in-depth interview), yaitu berupa dialog
secara individu maupun kelompok menggunakan pertanyaan-
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 51
pertanyaan bebas agar informan mengutarakan pandangan,
pengetahuan, perasaan serta sikap dan perilaku berupa
pengalaman pribadi yang berkaitan dengan profesi sebagai
PSK. Wawancara mendalam dimaksudkan untuk membangun
pemahaman bersama tentang tujuan penelitian dan materi
penelitian
(3)
. Dalam wawancara mendalam, peneliti
(pewawancara) dilengkapi formulir berisi pertanyaan-
pertanyaan sebagai pedoman wawancara. Selain wawancara
mendalam, data dikumpulkan menggunakan diskusi kelompok
terarah (DKT), terutama data tambahan yang tidak terekam
melalui wawancara mendalam. Peserta DKT terdiri dari para
PSK terpilih yang pernah diwawancarai secara mendalam
ditambah PSK lain yang belum pernah diwawancarai secara
mendalam yang berpraktek di lokasi yang sama. Diskusi
terarah yang dapat diselenggarakan untuk lokasi penelitian di
Surabaya berjumlah 4 kelompok dan untuk lokasi penelitian di
DKI Jakarta 5 kelompok. Masing-masing kelompok diskusi
beranggotakan 6 PSK.
Selain itu metoda pengamatan digunakan untuk melengkapi
data terutama yang tidak dapat terkumpul melalui wawancara
mendalam meliputi data fisik dan perilaku keseharian PSK
terutama saat menjalankan profesinya. Dalam pengamatan,
peneliti berupaya melibatkan diri dalam kehidupan obyek yang
diteliti yaitu PSK. Data yang dikumpulkan meliputi
karakteristik demografi, motivasi dan lama menjadi PSK,
perilaku yang berkaitan dengan risiko tertular PMS termasuk
HIV-AIDS yang meliputi pengetahuan, sikap dan perilaku
penggunaan kondom terakhir kali, frekuensi hubungan seksual
dan faktor latar belakang penggunaan kondom, latar belakang
sosial dan latar belakang sarana.
Data diperoleh langsung dari informan yang terdiri dari
PSK, mucikari (germo) dan orang-orang kunci yang
diasumsikan mengetahui kegiatan/praktek keseharian PSK
Selain itu data sekunder juga diperoleh dari arsip atau dokumen
instansi terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan
sumber lain. Dilakukan analisis deskriptif kualitatif dan sintesis
atas data yang diperoleh dengan dua cara yaitu wawancara
mendalam dan diskusi kelompok terarah. Dari berbagai
gambaran obyektif yang diperoleh, diadakan interpretasi
menggunakan beberapa teori perilaku PSK dan teori perubahan
sosial (social change).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Latar belakang karakteristik sosial demografi
Latar belakang karakteristik sosial demografi meliputi
daerah asal, usia, pendidikan, pekerjaan, penghasilan serta
alasan atau motivasi menjadi PSK dan pengetahuan tentang
PMS. Para PSK yang ditemui dan berhasil diwawancarai baik
di lokasi penelitian di DKI Jakarta maupun Surabaya asalnya
sangat heterogen, umumnya berasal dari Jawa Tengah. Sesuai
dengan yang diharapkan, PSK yang berhasil diwawancarai
untuk daerah penelitian di DKI berjumlah 20 orang, dan di
lokasi penelitian di Surabaya 20 orang. Daerah asal 20 PSK
yang ditemui dan diwawancarai di beberapa jalan di Kota
Madya Surabaya sebagian besar berasal dari Jawa Timur
seperti Jombang, Banyuwangi dan Sidoarjo dan sebagian kecil
dari Jawa Tengah seperti Cilacap dan Pekalongan. Sedangkan
PSK yang berhasil diwawancarai di lokasi penelitian di DKI
Jakarta, umumnya berasal dari Jawa Barat seperti dari
Kabupaten Indramayu, Kuningan dan Karawang dan
Purwakarta. Dilihat dari tingkat ekonomi orang tua, umumnya
berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka umumnya
mengaku bekerja sebagai pelayan toko atau buruh pabrik. Latar
belakangnya beragam; 10% ibu rumah tangga, 40% buruh
pabrik dan 30% penjaga toko, sisanya setelah tidak bersekolah
langsung menjalani profesi sebagai PSK.
Alasan mereka menjalani profesi sebagai PSK ada yang
karena perceraian, disakiti suami atau desakan ekonomi. Dalam
menjalani profesinya mereka berpindah-pindah lokasi. baik
yang di wilayah Jakarta maupun yang di Surabaya dengan
alasan mencari pengalaman dan agar dianggap "baru" Umur
responden antara 17 tahun sampai 34 tahun, sebagian besar di
bawah 30 tahun (Tabel 1).
Umur sangat berpengaruh terhadap banyaknya pelanggan
atau tingkat kelarisan di samping faktor lainnya seperti faktor
fisik, penampilan, selera tamu dan lain-lain.
Tabel 1. Proporsi Pekerja Seks Berdasarkan Kelompok Usia dan Daerah
Penelitian
Daerah Penelitian
DKI Jakarta
Surabaya
Kelompok
Umur
(Tahun)
Jumlah % Jumlah %
Jumla
h
15 - 19
20 - 24
25 - 29
30 - 34
35 - 39
4
8
6
2
20.0
40.0
30.0
10.0
3
9
4
3
1
15.0
44,7
20.0
20.0
0,3
7
17
10
5
1
Jumlah
20
100.0
20
100.0
40
Tingkat Pendidikan PSK
Kebanyakan responden hanya berpendidikan Sekolah Dasar
(SD). Bahkan ada yang tidak tamat SD. Ada di antara mereka
menamatkan SLTA atau SMEA. Pendidikan mempengaruhi
cara penampilan dan bicara yang terlihat pada saat transaksi
dan atau saat penyambutan calon pelanggan atau pasangan.
Pekerja seks termuda yang berhasil diwawancarai di
daerah penelitian di DKI Jakarta berumur 16 tahun. Dia
berpendidikan hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
(SLTP) di daerah asalnya Tasikmalaya Jawa Barat Wajahnya
tidak tergolong cantik. Mulai menjalani profesi sebagai pekerja
seks komersial sejak tahun 1997. Setiap melakukan transaksi
dia menawarkan harga (memasang tarif) Rp. 50.000. Biasa
mangkal di Kebayoran Baru tepatnya di kawasan Taman Blok
M mulai pukul 19.00 WIB. Dia terlanjur datang ke ibu kota
untuk mencari pekerjaan. Mau kembali ke orang tua, bagi dia
bukan solusi, karena orang tua tergolong tidak mampu. Uang
yang didapat dari menjalani profesi sebagai PS sebagian
dikirim untuk orang tuanya. Dia tidak pernah menyesali apa
yang telah menimpa dirinya meskipun masih berharap untuk
kembali ke jalan yang benar. Lain halnya PSK yang biasa
mangkal di kawasan Melawai. Di kawasan tersebut para PSK
memasang tarif sekitar Rp 400.000 setiap transaksi. Salah
seorang PSK yang berhasil diwawancarai berusia sekitar 21
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
52
tahun. Ia lulusan SLTP dan tinggal di daerah Sawangan Bogor.
Untuk mendapatkan calon pelanggan (pasangan seksnya)
biasanya dibantu oleh para pedagang asongan atau pengamen
dengan upah Rp 10.000 - 15.000.
Para PS di kawasan Melawai dikoordinir oleh germo.
Salah seorang PSK yang berpraktek di daerah penelitian di
Surabaya yang berhasil ditemui dan diwawancarai biasa
mangkal di kawasan Margorejo mengaku lulusan SMK
(Sekolah Menengah Kejuruan). Kedua orang tuanya sering
bertengkar. Pertama kali berhubungan seks dengan seorang
pengusaha di Surabaya.
PSK lain lulusan SLTP asli Surabaya berusia 21 tahun di
lokasi yang sama yaitu di kawasan Margorejo. Ia terpaksa
mulai menjalani profesi sebagai PSK karena benturan ekonomi
sejak tahun 1998. Kedua orang tuanya meninggal. Dia tinggal
bersama neneknya. PSK lain lulusan SMU, biasa di jalan
Ketintang, Surabaya. Masalah utamanya ialah masalah
ekonomi. Setelah lulus SMU tahun 1998 ia tidak meneruskan
kuliah. Alasan menjadi PSK tidak terungkap. PSK tertua yang
berhasil diwawancarai berusia sekitar 35 tahun di Jakarta Dia
adalah ibu rumah tangga berputra 4 orang, mulai menjalankan
profesi sebagai PSK sejak tahun 1997 di seputar Bioskop Pasar
Minggu, Jakarta Selatan
Status Perkawinan PSK
Sebagian besar bertatus belum menikah (31 orang -
77.5%). Sementara yang berstatus menikah dan masih
bersuami 5 orang (12.5%) dan berstatus janda 3 orang (7.5%).
Sebagian besar beragama Islam; 3 orang mengaku beragama
Kristen
Alasan Menjadi PSK
Pekerjaan mereka sebelum menjadi PSK sangat beragam
antara lain sebagai ibu rumah tangga, pelayan di hotel, pesuruh
di kelurahan, bekerja di diskotek, pelayan toko, sebagai
petani/pemelihara ternak dan ada yang belum pernah bekerja
karena baru menamatkan sekolah.Faktor ekonomi merupakan
alasan klasik (95%). Pada umumnya mereka berasal dari
keluarga kurang mampu atau miskin. Alasan lain kejiwaan atau
frustrasi. Faktor pendorong untuk bekerja sebagai PSK sangat
bervariasi antara lain terkena PHK, diajak teman, paling mudah
mendapatkan uang, sebagai janda ditinggal suami, tidak dapat
memenuhi kebutuhan anak-anak dan kehidupan sehari-hari,
frustrasi karena pernah digauli oleh laki-laki, dibohongi untuk
dikawin/ditinggal pacar, membantu beban orang tua yang tidak
dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, sulit mencari pekerjaan
lain, ingin kecukupan supaya tidak ketinggalan dengan teman-
teman sebayanya, bertengkar dengan orang tua karena
dijodohkan.
Penghasilan PSK
Tingkat ekonomi rata-rata meningkat sesudah menjadi PSK
Mereka dapat membiayai kehidupan keluarga termasuk
menyekolahkan anak. Sebagian dari mereka dapat menabung
untuk rencana setelah mengakhiri profesi PSK. Sebagian besar
responden baru sekitar 1 tahun menjalani profesinya.
Penghasilan mereka tidak tetap. Tarif umum rata-rata Rp.
50.000,- hingga Rp 100.000. Mereka bisa melayani 2 hingga 3
orang tamu atau pelanggan dalam semalam. Penghasilannya
sebesar Rp. 200.000 sampai Rp 1.500.000 tiap bulan, sebagian
dikirim ke orang tua dan sebagian lagi untuk kebutuhan hidup
di Jakarta. Tetapi banyak juga yang tidak tertabung, karena
sangat konsumtif dan perlu mempercantik diri misalnya untuk
membeli pakaian dan lain-lain.
Sikap dan Perilaku Penggunaan Kondom
Berbagai faktor yang mendorong pemakaian kondom
berkaitan dengan pengetahuan mereka yaitu kuatir terkena
PMS dan tertular penyakit HIV-AIDS, kuatir hamil.
Pengaruh Lingkungan
Dari informasi yang diperoleh, nampaknya faktor yang
mempengaruhi mereka terjun ke dunia malam adalah
lingkungan teman, keluarga dan masyarakat umum. Mereka
menjadi PSK karena diajak teman, dimarahi orang tua/keadaan
ekonomi keluarga serta suaminya sendiri yang membiarkan
isterinya melakukan pekerjaan sebagai PSK. Dapat pula karena
pengaruh pergaulan dan lingkungan sosial. Ada yang karena
ditipu pacar atau korban perkosaan. Walaupun tidak dapat
dibenarkan, keadaan ekonomi sangat mendukung seorang
wanita untuk terjun ke dunia pelacuran.
Peran Media Komunikasi.
Sebagian besar PSK menyatakan informasi tentang
penyakit diperoleh melalui televisi dan membaca Mereka
mengenal penyakit HIV-AIDS akibat hubungan seks berganti-
ganti dan penyakit ini tidak atau belum ada obatnya. Selain itu
sebagian dari mereka juga pernah membaca bahwa untuk
menghindari penularan penyakit kelamin adalah memakai
kondom. Penyuluhan melalui komunikasi tatap muka tidak
mereka peroleh. Hal ini mungkin karena kelompok mereka
tidak diketahui sebagai PSK.
Faktor Keterberdayaan Dalam Tatanan Sosial.
Mereka umumnya mengakui bahwa keberadaan mereka
sebagai PSK tidak dikehendaki oleh tatanan baik keluarga
maupun masyarakat. Mungkin sebagian dari mereka merasa
berdosa menjalani profesi sebagai PSK. Bila ditanya mereka
mengatakan yang tidak sebenarnya, misalnya bekerja di
restoran atau di kelab malam (bar).
Harapan PSK
Sarana yang diperlukan setiap PSK adalah kemudahan
untuk mendapatkan obat dan peralatan kontrasepsi berupa
kondom yang diperlukan terutama untuk mencegah penyakit
akibat hubungan seks atau PMS. Para PSK mengharapkan
dapat memperoleh kondom secara mudah dan murah, jika perlu
gratis, dapat ikut program KB (keluarga berencana) secara
murah terutama melalui suntikan. Selain itu mereka juga
mengharapkan kemudahan untuk pemeriksaan kesehatan setiap
saat. Mereka juga mengharapkan bantuan dana (modal) saat
berhenti dari profesinya. Informasi ini diperoleh dari hampir
semua PSK yang sudah janda dan mereka yang sudah
mendekati usia 30 tahun. PSK yang relatif masih muda lebih
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 53
menghendaki pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan
tingkat pendidikannya. Di samping itu mereka juga
mengharapkan mendapatkan tambahan ketrampilan di tempat
penampungan. Bahkan ada yang bercita-cita menjadi pedagang
setelah mempunyai modal kerja. Pekerja seks pada umumnya
ingin kembali ke jalan yang benar, setidaknya ingin kembali
menjadi wanita yang baik. Mereka umumnya menginginkan
pekerjaan dan membentuk keluarga yang sejahtera. Menurut
pengakuan mereka hanya kesempatan yang belum muncul.
Mereka pada dasarnya mempunyai naluri kewanitaan yang baik
dan ingin menjalani hidup seperti wanita atau ibu-ibu rumah
tangga secara normal di masyarakat lingkungannya.
Penelitian Endang Sedyaningsih (1999.) menyatakan pada
dasarnya dikotomi antara perempuan baik-baik dan perempuan
tidak baik tampaknya masih melekat dalam pandangan
masyarakat dan lebih lagi dikuatkan oleh berbagai kebijakan,
adat serta aturan yang ada.
Pandangan tersebut sering memojokkan perempuan;
kebijakan pembangunan yang tidak berpihak kepada
perempuan di tengah langkanya lapangan pekerjaan serta
rendahnya tingkat pendidikan kaum perempuan menjadi
penyebab utama munculnya pekerja seks, di tambah terjadinya
krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Dengan perkataan lain munculnya PSK merupakan bentuk
kekalahan perempuan dalam persaingan di lapangan pekejaan
yang lebih dikuasai laki-laki. Dalam kondisi demikian,
perempuan selalu tersisihkan dengan gaji lebih sedikit dan
mudah terancam PHK Di sisi lain tumbuh pusat-pusat hiburan
dan selalu ada saja PSK yang muncul.Pada dasarnya kehadiran
PSK adalah sebagai korban pembangunan dan korban
pandangan masyarakat, baik sebagai akibat kekerasan yang
dialaminya seperti perkosaan atau penganiayaan. Semuanya itu
berakar pada kuatnya konsep patriarki sebagai bagian budaya
dalam masyarakat. Konsep patriarki menganggap laki-laki
mempunyai hak poligami. Inilah yang menumbuhkan
kontradiksi manakala dihadapkan pada masalah PSK
KEPUSTAKAAN
1.
Endang R Sedyaningsih, Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak,
Penerbit Suara Pembaharuan, 1999.
2.
Hudayana,B. Pengumpulan Dan Analisis Data Dalam Penelitain
Etnografi, Balai Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1992.
3.
Koentjaraningrat. Metoda-Metoda Penelitian Masyarakat, Penerbit PT.
Gramedia, Jakarta, 1977.
4.
Suara Pembaharuan, Maret 1999
It is the passions that do and that undo everything
(Fontenelle)
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
54
Document Outline