HASIL PENELITIAN
Jenis Informasi yang Dapat
Diperoleh dan Rekam Medik di
Beberapa Rumahsakit Umum
Pemerintah
Data retrospektif 1988/1989 dan 1992/1993
Retno Gitawati, Nani Sukasediati, Ondri D. Sampurno, Puji Lastari
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Rekam Medik (RM) mencatat semua hal yang berhubungan dengan perjalanan
penyakit penderita dan terapinya selama dalam perawatan di unit pelayanan kesehatan.
Karenanya, RM dapat menjadi sumber informasi, baik bagi kepentingan penderita,
maupun pihak pelayanan kesehatan, sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil
tindakan medik atau menentukan kebijakan tatalaksana/pengelolaan.
Dari dua penelitian yang telah dilakukan akan diungkapkan kelengkapan RM dan
jenis informasi apa saja yang dapat diperoleh dan RM pada beberapa rumahsakit umum
(RSU) pemerintah. Sebagai sampel adalah RM rawat jalan dan 6 RSU pemenntah tipe B
dan C sebanyak 494 RM pada pengumpulan data 1988/1989 (= RMRJ `88) dan RM
rawat jalan dan rawat inap dan 2 RSU tipe B dan C yang lain, masing-masing sebanyak
470 RM dan 304 RM, pada pengumpulan data 1992/1993 (= RMRJ `92 dan RMRI `92).
Pengambilan sampel semula direncanakan secara acak sistematik pada bulan yang telah
ditentukan, namun sebagian besar diperoleh secara sensus pada bulan yang bersangkut-
an karena jumlah RM tidak mencukupi.
Beberapa iformasi yang seharusnya tertera pada rekam medik seperti data de-
mografi, anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, diagnosis, regimen dosis, hasil pemeriksaan
penunjang medik/diagnostik, lama rawat, nama dan paraf dokter yang merawat, pada
beberapa RM tidak semua terekam. Dari kajian terhadap sampel ditemukan adanya RMRJ
`88 dan RMRJ `92 yang tidak merekam data diagnosis berturut-turut sebesar 36,6% dan
5,1%. Data regimen dosis (jangka waktu pemberian obat, jumlah obat, aturan pakai
obat) tidak terekam sama sekali pada RMRJ `88. Data regimen dosis terekam tidak leng-
kap pada RMRJ `92; sekitar 97% RMRJ `92 merekam aturan pakai obat, dan sekitar
9,5% juga mencatat jangka waktu pemberian obat dan jumlah obat yang dipreskripsi.
Sedangkan rekam medik rawat inap RMRI `92, umumnya merekam informasi tersebut
lebih lengkap, kecuali data riwayat penyakit sebelumnya, hanya tercatat sebesar 3,6%.
Pada pengumpulan data 1988/1989 dilakukan kuantifikasi terhadap informasi
RMRJ `88 dengan memberi prosentase pada tiap rubrik informasi yang terekam, untuk
mengetahui sejauh mana RM mempunyai "nilai informatif" untuk dapat digunakan
sebagai sumber informasi. Nilai informatif RMRJ `88 berkisar antara 60-70%. Pada
RMRJ `92 tidak dilakukan kuantifikasi.
PENDAHULUAN
Pelayanan kesehatan pada penderita yang datang berobat
ke fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas, rumahsakit umum
dan lain-lain) tidak lagi ditangani oleh satu orang saja; karena-
nya dibutuhkan sarana komunikasi. Di samping itu mutu pe-
layanan kesehatan perlu ditingkatkan dan waktu ke waktu.
Dibawakan pada KONAS IKAFI - IX di Ujung Pandang, 9- 12 Agustus 1995.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 49
Kegiatan ini membutuhkan informasi dan pengalaman sebe-
lumnya, yang diolah secara sistematik menjadi hasil yang dapat
dipercaya. Untuk itu diperlukan sumber informasi yang me-
madai.
Rekam medik (RM) merupakan salah satu sumber informasi
sekaligus sarana komunikasi yang dibutuhkan baik oleh pen-
derita, maupun pemberi pelayanan kesehatan dan pihak-pihak
terkait lain (klinisi, manajemen RSU, asuransi dan sebagainya),
untuk pertimbangan dalam menentukan suatu kebijakan tata-
laksana/pengelolaan atau tindakan medik.
Rekam medik antara lain bermanfaat sebagai :
· dokumen bagi penderita yang memuat riwayat perjalanan
penyakit, terapi obat maupun non-obat dan semua seluk beluk-
nya.
· sarana komunikasi antara para petugas kesehatan yang ter-
libat dalam pelayanan/perawatan penderita.
· sumber informasi untuk kelanjutan/kesinambungan pela-
yanan/perawatan penderita yang sering masuk ke RSU ber-
sangkutan.
· penyedia data bagi pihak ketiga yang berkepentingan dengan
penderita, seperti asuransi, pengacara, instansi penanggung
biaya.
· penyedia data bagi kepentingan hukum dalam kasus-kasus
tertentu.
Atas dasar manfaat di atas, rekam medik telah dirancang
sedemikian rupa agar memuat informasi-informasi tersebut.
Guna mengungkapkan informasi apa saja yang dapat diperoleh
dan RM, maka dilakukan suatu studi eksplorasi terhadap rekam
medik rawat jalan dan rawat inap di beberapa RSU pemerintah.
BAHAN DAN CARA
Studi ini merupakan bagian dan 2 (dua) buah penelitian
yang dilakukan pada tahun 1988/1989 dan 1992/1993
(1,2)
, meng-
gunakan teknik pengumpulan data yang sama. Eksplorasi di-
lakukan dengan mengumpulkan data rekam medik (RM) secara
retrospektif, yaitu rekam medik rawat jalan (RMRJ) tahun 1988/
1989 dan 1992/1993, dan rekam medik rawat inap (RMRI) tahun
1992/1993 dan 8 rumahsakit umum (RSU) tipe B dan C di Jawa
dan Lampung. Pengambilan sampel yang semula direncanakan
secara acak sistematik, untuk sebagian besar RSU dilaksanakan
secara sensus karena jumlah sampel RM tidak mencukupi.
lnformasi (data) dan RM dipindahkan (transkrip) ke dalam
formulir khusus, selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
RM dianggap bersifat informatif bila memuat informasi
sebagai berikut:
· karakteristik/demografi penderita (identitas, usia, jenis ke-
lamin, pekerjaan dan sebagainya.
· tanggal kunjungan, tanggal rawat/selesai rawat.
· riwayat penyakit dan pengobatan sebelumnya.
· catatan anamnesis, gejala klinik yang diobservasi, hasil
pemeriksaan penunjang medik (lab, EKG, radiologi dan se-
bagainya), pemeriksaan fisik (tekanan darah, denyut nadi, suhu
dan sebagainya).
· catatan diagnosis.
· catatan penatalaksanaan pendenita, tindakan terapi obat
(nama obat, regimen dosis), tindakan terapi non-obat.
· nama/paraf dokter yang menangani (diagnosis, penunjang,
pengobatan) dan petugas perekam data (paramedik).
Pada RMRJ '88 dilakukan kuantifikasi terhadap informasi
dengan cara memberikan nilai prosentase pada setiap rubrik
informasi yang dikumpulkan. Kuantifikasi dimaksudkan untuk
mengetahui sejauh mana RM mempunyai "nilai informatif", da-
lam anti dapat digunakan sebagai sumber informasi. Kuantifikasi
dimungkinkan karena RM tersebut berasal dari penderita satu
kelompok penyakit tertentu (penyakit kardiovaskuler). Pada
RMRJ `92 dan RMRJ `92 tidak dilakukan kuantifikasi karena
kesulitan membuat rubrikasi akibat sampel berasal dari berba-
gai kelompok penyakit.
HASIL
Jumlah RM yang terkumpul dari 6 RSU tipe B dan C (1988/
1989) dan 2 RSU tipe B dan C (1992/1993) adalah : 494 RMRJ
(1988/1989), 470 RMRJ (1992/1993) dan 304 RMRI (1992/
1993).
Sebagian RMRJ `88 (41,9%) tidak memuat beberapa
informasi tentang karakteristik/demografi penderita yang
bersangkutan. Salah satu informasi yang tidak terekam pada
semua RMRJ `88 adalah jumlah (banyaknya) tiap jenis obat
yang diberikan/dipreskripsi.
Sebagian RMRJ `88 (36,6%) tidak mencantumkan diagno-
sis, sedangkan pada RMRJ `92 diagnosis tidak tercatat pada
sebagian kecil RM (5,1%). Infonmasi diagnosis terekam pada
sebagian besar RMRI `92 dan hanya ada 4 RMRI `92 yang tidak
merekam informasi tersebut. Gambaran ikhwal informasi yang
terekam dan tidak terekam pada RM tersebut dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Informasi yang terekam dan tidak terekam pada RM (%)
RMRJ '88
(N=494)
%
RMRJ '92
(N=470)
%
RMRI '92
(N=304)
%
Ikhwal
(+) (-) (+) (-) (+) (-)
Demografi (usia, sex,
pekerjaan dab.)
Riwayat sakit
sebelunmya
Diagnosis
Regimen terapi
aturan pakai obat
lamapemakaian
jumlah
obat
Informasi lain (konsul,
terapi non-obat)
58,1
52,8
69,4
0
0
0
0
41,9
47,2
30,6
100,0
100,0
100,0
100,0
98,9
25,7
94,9
87,2
8,5
0
100,0
1,1
74,3
5,1
12,8
91,5
1000
0
98,4
3,6
98,7
100,0
100,0
100,0
100,0
1,6
96,4
1,3
0
0
0
0
Keterangan:
(+) : informasi terekam
() : informasi tidak terekam
Gambaran penggunaan obat pada umumnya dapat lebih
diungkapkan dengan menghitung regimen terapi. Namun dalam
penelitian ini sumber data terbesar (RMRJ '88) tidak memberikan
informasi regimen terapi karena ada ikhwal yang tidak tercatat,
antara lain aturan pakai, lama pemberian dan jumlah obat. Hal
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
50
serupa juga tampak pada RMRJ `92, tetapi pada RMRI 92 data
dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai regi-
men terapi obat karena data yang diperlukan untuk hal ini ter-
sedia (terekam).
Kuantifikasi terhadap informasi RM yang "dianggap me-
madai" (mempunyai "nilai informatif") pada RMRJ `88 secara
keseluruhan, dilakukan secara arbritary dengan memberikan ni-
lai prosentase pada setiap rubrik informasi RM, besarnya antara
20100%. Sebagai contoh, informasi karakteristik/demografi
penderita yang seyogyanya ada pada setiap RM diberi "nilai"
20%. Selanjutnya untuk setiap ikhwal informasi lain diberi "nilai"
tertentu, sehingga total "nilai" untuk semua ikhwal informasi
yang ada dalam RM adalah 100%. RMRJ `88 dianggap memadai
100%, jika informasi yang tercantum dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan penderita, klinisi, manajemen RS, penelitian
maupun pihak lain yang berwenang. Berdasarkan kuantifikasi
tersebut, diperoleh gambaran RMRJ `88 sebagai berikut
(Gambar 1).
Gambar 1. Distribusi jumlah RMRJ `88 sesuai "nilal informatif"-nya
Nilai informatif RMRJ `88 sebagian besar berkisar antara
60%-70%. Karena nilai modus berada di sekitar 60%, maka
nilai ini dianggap sebagai batas suatu RMRJ yang dianggap
mempunyai `nilai informatif' dan masih memadai sebagai
sumber informasi.
Data RMRJ `88 tiap RSU menunjukkan perbedaan dalam
hal informatif/tidaknya RM. Pada Gambar 2 diungkapkan
prosentase jumlah RMRJ `88 di tiap RSU yang dikaji yang me-
miliki "nilai informatif" > 60%.
Gambar 2. Distribusi % jumlah RMRJ `88 yang mempunyai "nilai
informatif" > 60%, sesuai RSU
Dari Gambar 2 diperoleh gambaran kasar bahwa sekitar
7590% RMRJ `88 dari 3 (tiga) RSU (No. 1, 2 dan 6) memiliki
"nilai informatif" > 60%. Sedangkan pada 3 (tiga) RSU lainnya
"nilai informatif" RMRJ `88 masih di bawah 60%.
PEMBAHASAN
Rekam medik yang informatif seyogyanya memuat data
yang jelas, lengkap, terstruktur dan akurat dan segala sesuatu
yang telah diobservasi, dikaji pada penderita, dan diambil tin-
dakan terhadap penderita yang bersangkutan. Sampel pada
RMRJ `88 berasal dari 6 RSU di Jawa dan Lampung dapat di-
anggap sebagai gambaran RM pada RSU tipe B dan C pada
waktu itu sedangkan RMRJ `92 dan RMRI `92 hanya berasal
dari 2 RSU tipe B dan C.
Meskipun data 1988/1989 dan data 1992/1993 tidak dapat
diperbandingkan antara lain karena sample frame yang
berbeda, namun dan pengkajian ini diperoleh kesan bahwa RM
1992/1993 (RMRJ) sudah relatif lebih informatif dibanding
RMRJ 1988/1989. Informasi tidak terekam pada RMRJ `88
mungkin akibat kelalaian pada waktu pencatatan atau dapat
juga karena dana tersebut tidak dibutuhkan, contohnya, tidak
semua diagnosis memerlukan pemeriksaan penunjang medik,
sehingga data tersebut tidak perlu dicantumkan pada RM.
Kemungkinan lain adalah munculnya kebutuhan akan
informasi yang lebih lengkap; RM yang baik perlu memenuhi
"3 C" (correct, complete, clear).
Informasi pada RMRJ pada penelitian ini dapat diman-
faatkan bagi klinisi untuk mengetahui perjalanan penyakit
penderita, meskipun masih terbatas. Dari gambaran jenis
informasi yang tidak terekam pada RM (Tabel 1), riwayat pe-
nyakit sebelumnya tidak selalu dapat terungkap, terutama pada
RMRJ `92 dan RMRI `92 (70-90%), padahal informasi ini pen-
ting bagi tindakan-tindakan lanjut yang diperlukan. Studi ini
tidak dapat menelusuri penyebab ketidak-terungkapan tersebut.
Salah satu kemungkinan adalah kelalaian dalam mencatat.
Kemungkinan lain, penderita tidak ingat lagi akan penyakit
yang pernah dideritanya.
Data diagnosis, salah satu data penting yang harus terekam
pada suatu RM yang digunakan untuk menentukan tindakan
terhadap penderita , lebih terungkap pada RMRJ `92 diban-
dingkan RMRJ `88. Data diagnosis juga terungkap pada sebagi-
an besar RMRI `92, karena sebagai alat perekam data penderita
yang sedang menjalani perawatan-inap, pencatatan data RMRI
(antara lain perkembangan klinis, tindakan dan sebagainya)
lazimnya dilakukan lebih ninci. Perkembangan klinis penderita
senantiasa dievaluasi setiap hari selama masa perawatan pen-
derita untuk dapat menentukan suatu tindakan yang berke-
sinambungan. Sedangkan data pada RMRJ, sewajarnya juga
harus terekam rinci pada RM, namun dan hasil kajian pada studi
ini tidak demikian. Penyebab "ketidak-lengkapan" tersebut tidak
diketahui. Salah satü kemungkinan akibat terbatasnya waktu
konsultasi, karena banyaknya jumlah penderita rawat jalan yang
berkonsultasi menyebabkan petugas tidak sempat lagi mencatat
secara rinci, atau ada penyebab lain lagi. Hal ini masih perlu
eksplorasi lebih lanjut. Sebagai sumber data sekunder, terutama
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 51
bagi kepentingan studi epidemiologi, data diagnosis yang leng-
kap diperlukan untuk mengetahui antara lain pota penyakit.
RM menyimpan data klinik penderita baik yang rawat inap
maupun rawat jalan; di samping itu RM dapat pula bertindak
sebagai suatu scratch pad yang antara lain berisi pendapat/
pandangan, kesan, atau permintaan (requests) pada anggota tim
kesehatan lainnya untuk suatu layanan/tindakan/rujukan bagi
penderita yang bersangkutan serta tanggapan atas permintaan/
pendapat/kesan tersebut. Dengan demikian RM juga berfungsi
sebagai sarana komunikasi antar anggota tim kesehatan yang
terlibat dalam pelayanan tersebut.
Dalam membaca atau menginterpretasikan suatu RM, ke-
mungkinan ditemukan kesalahan yang antara lain dapat ber-
sumber dan berbagai hal seperti tampak pada Skema 1
(3)
.
Skema 1. Sumber kesalahan pada Rekam Medik(3)
Salah informasi dapat terjadi misalnya akibat ketidaktahu-
an penderita, atau si penderita tidak ingat lagi riwayat penyakit
yang melatarbelakangi keluhan yang dialami, sehingga
anamnesis menjadi kurang tepat. "Salah interpretasi" terhadap
temuan gejala klinik dapat terjadi karena petugas belum ber-
pengalaman (misalnya pada waktu pengukuran tekanan darah).
Pada kejadian "salah rekam"/salah mencatat lebih mungkin di-
sebabkan kecerobohan dan ketidaktelitian pencatat. Demikian
juga, kesalahan lain dapat disebabkan oleh faktor manusia (hu-
man error) ataupun metoda (laboratorik), misalnya identitas
spesimen tertukar, analisis laboratorium keliru, tidak akurat dan
sebagainya, sehingga data pada RM dapat menjadi tidak sesuai,
terutama data yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis
yang benar dan menentukan tindakan selanjutnya. Sebagai
sumber informasi, mutu rekam medik itupun menjadi kurang.
Informasi dalam RM mengenai tindakan ataupun terapi
apa yang diberikan kepada penderita dapat dimanfaatkan juga
bagi petugas asuransi kesehatan atau badan penanggung biaya
lainnya untuk keperluan klaim dan auditing.
Untuk mengetahui gambaran preskripsi obat, informasi
nama obat yang diberikan dapat terungkap dan RM, namun
regimen terapi tidak dapat terungkap dan RMRJ karena seba-
gian besar RMRJ tidak merekam parameter untuk menentukan
regimen terapi (aturan pakai, jangka waktu/lama pemberian,
jumlah diberikan). Tidak demikian halnya dengan RMRI; data
regimen terapi dapat lebih terungkap jika memanfaatkan sumber
data tersebut. Pada RMRI `92 regimen tercatat lengkap 100%,
namun jumlah obat yang tercatat "sebagai diberikan kepada
penderita' tidak cocok dengan jumlah obat sesuai regimen yang
terekam. Informasi regimen terapi yang lengkap diperlukan
untuk kuantifikasi obat yang sudah dimanfaatkan, dihitung
sebagai DDD (defined daily dose) yang merupakan ukuran
konsumsi obat. Bagi kepentingan manajemen rumahsakit, data
DDD ini dapat juga menjadi pedoman konsumsi obat jika di-
kaitkan dengan indeks okupansi tempat tidur di RSU ber-
sangkutan Pedoman tersebut dapat dimanfaatkan oleh para
pengambil-keputusan antara lain sebagai pertimbangan dalam
perencanaan pengadaan obat. Dan hasil kajian ini, data regimen
dosis RMRI `92 tampaknya belum dapat dimanfaatkan untuk
menghitung DDD. Evaluasi terhadap pola preskripsi dapat
dilakukan pada rumahsakit yang telah memiliki Standar Terapi
dan Formularium Rumahsakit. Kemungkinan terjadinya
preskripsi obat berlebihan (overprescribed) yang dikaitkan
dengan pola penyakit penderita dirawat, dapat ditelusuri dengan
mengkaji sumber data RMRI; seberapa jauh telah terjadi pe-
nyimpangan dan standar tersebut, dan apa sebab terjadi
penyimpangan. Bagi rumahsakit yang sebelumnya tidak/belum
memiliki Standar Terapi dan Formulanum RS, informasi ini
dapat pula digunakan sebagai data dasar untuk evaluasi setelah
rumahsakit yang bersangkutan mengembangkan Standar Terapi
dan Formularium RS.
KESIMPULAN
RM dapat menjadi sumber data sekunder yang memadai
apabila data yang terekam cukup lengkap, informatif, jelas dan
akurat. Data RM dan hasil studi in terutama data RMRI dapat
digunakan antara lain:
· untuk studi epidemiologi, antana lain mengungkapkan pola
penyakit, pola preskripsi, monitoring efek samping obat.
· data penggunaan obat di rumahsakit dapat digunakan untuk
meningkatkan pemanfaatan penggunaan obat yang lebih
rasional dan efisien, sesuai dengan pola penyakit dan standar
terapi/formularium RS bersangkutan.
· data regimen terapi yang lengkap dan cocok pada RMRI
bila dikaitkan dengan indeks okupansi tempat tidur, dapat
digunakan untuk menghitung DDD (defined daily dose) obat,
yaitu suatu ukuran konsumsi obat di rumahsakit bersangkutan.
RM dan eksplorasi ini belum memadai untuk penghitungan
DDD dan perencanaan pengadaan obat.
· data tindakãn/terapi yang diberikan dapat dimanfaatkan
untuk kepentingan pengajuan klaim perusahaan asuransi/instansi
penanggung biaya lain.
Dari hasil studi ini, kelemahan/hambatan utama yang di-
temukan di lapangan antara lain adalah:
· kesulitan dalam melakukan penelusuran dan retrieval RM,
karena RM yang dimaksud kadang-kadang tidak lagi tersimpan
di ruang ansip RM. Terbatasnya sanana/ruang tempat penyim-
panan RM di banyak RS, mengakibatkan jangka waktu pe-
nyimpanan RM dibatasi umumnya untuk 3-5 tahun terakhir.
· data pada RM seringkali tidak dapat terungkap karena tidak
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
52
terekam, atau terekam kurang jelas, sehingga menyulitkan pada
waktu transkrip data.
· belum ada keseragaman dalam cara pengisian RM.
KEPUSTAKAAN
1. Nani Sukasediati dkk. Pola penggunaan obat kardiovaskuler di beberapa
rumahsakit pemerintah tipe B dan C. Laporan Penelitian 1988/1989,
PusLitBang Farmasi, BPPK-DepKes.
2. Nani Sukasediati dkk. Pengembangan tatalaksana Obat Generik Berlogo
(0GB) guna peningkatan pemanfaatannya di 2 RSU tipe B dan C. Laporan
Penelitian 1994/1995, PusLitBang Farmasi BPPK-DepKes.
3. Wyatt JC. Clinical data systems, part 1: data and medical records. Lancet
1994; 344: 1543-6.
4. Dukes MNG. Drug utilization studies, method and uses. WHO Reg PubI
Eur Series 45, 1993.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 53