Penyakit diare masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang penting di negara berkembang termasuk Indonesia. Sebagian besar kematian disebabkan oleh dehidrasi atau kehilangan cairan dan elektrolit tubuh. Diare pada anak, sebagian besar (85%) adalah diare akut, 10% diare berlanjut, dan 5% diare persisten. Diare akut umumnya merupakan penyakit yang biasanya bisa sembnuh dengan sendirinya. Dehidrasi terjadi bila kehilangan cairan dan elektrolit tidak terganti secara adekuat. Dehidrasi dapat diterapi dan dicegah secara efektif dan aman dengan menggunakan cairan rehidrasi oral (oralit). Cairan oralit tidak untuk mengobati diare sedangkan antibiotika digunakan hanya untuk diare yang disebabkan oleh bakteri patogen, oleh karena itu penemuan berbagai obat anti diare yang dapat mengurangi durasi diare, frekuensi buang air besar, dan volume.
PENYEBAB DIARE
Penyebab tersering diare pada anak adalah infeksi saluran cerna dan data epidemiologi memperlihatkan bahwa rotavirus dan bakteri merupakan penyebab tersering. Berdasarkan data yang dilaporkan di RSCM Jakarta pada tahun 2003, rotavirus ditemukan pada 60% anak dan bakteri (E. coli dan Salmonella) pada 20% anak berumur di bawah 3 tahun dengan diare akut tanpa dehidrasi dan dehidrasi ringan-sedang. Diare yang disebabkan oleh rotavirus dan bakteri tidak memperlihatkan perbedaan durasi diare yang bermakna. Frekuensi diare cair ditemukan lebih banyak secara bermakna pada diare yang disebabkan oleh rotavirus dibanding diare yang disebabkan oleh bakteri.
PENATALAKSANAAN DIARE
Tata laksana awal pada diare adalah menentukan derajat dehidrasi. Dehidrasi dibagi menjadi 3 kategori, yaitu (1) tanpa dehidrasi, (2) dehidrasi ringan-sedang, dan (3) dehidrasi berat. Pada dehidrasi berat, defisit cairan yang terjadi diprakirakan sama dengan penurunan berat badan sebesar > 10%, sedangkan pada dehidrasi ringan-sedang sebesar 5-10%. Pada diare tanpa dehidrasi, anak tampak sadar, kelopak mata tidak cekung, air mata masih terlihat pada saat anak menangis, bibir dan lidah basah, anak minum secara normal bila diberikan air atau oralit (meskipun kadangkala anak menolak cairan oralit karena tidak menyukai rasanya), dan turgor kulit kembali dengan cepat.
Pada dehidrasi ringan-sedang, anak terlihat rewel dan gelisah, kelopak mata cekung, sedikit air mata pada saat menangis, bibir dan lidah kering, anak terlihat sangat haus, dan turgor kulit kembali dengan lambat.
Pada dehidrasi berat, anak terlihat sangat lemas dan kadang kala datang dengan kesadaran menurun, kelopak mata sangat cekung dan tidak terlihat air mata pada saat menangis, bibir dan lidah sangat kering, anak malas minum atau tidak dapat minum, dan turgor kulit kembali sangat lambat.
Cairan Rehidrasi
Pemberian cairan untuk mencegah dehidrasi merupakan pengobatan yang paling penting dalam menghadapi diare. Cara paling sederhana adalah dengan minum air dalam jumlah yang cukup untuk mengganti cairan yang hilang.
Anti Diare
Beberapa obat anti diare telah diproduksi untuk melengkapi keterbatasan oralit. Walaupun demikian, menentukan obat anti diare yang tepat tidaklah mudah. Obat tersebut harus aman, kompatibel dengan oralit, efektif terhadap diare dengan berbagai sebab, dan tentunya harga terjangkau. Berdasarkan patofisiologinya, pada diare akut dapat terjadi kehilangan cairan dan elektrolit serta gangguan keseimbangan flora saluran cerna. Berbagai obat dilaporkan dapat meningkatkan barier mukosa saluran. Meskipun memperlihatkan hasil yang positif, penggunaan obat-obat tersebut secara rasional harus selalu menjadi pertimbangan terutama pada pasien yang berasal dari golongan sosial ekonomi menengah ke bawah.
Beberapa bahan aktif yang dapat digunakan sebagai antidiare:
Antidiare
Antidiare digunakan untuk mengurangi frekuensi diare agar aktivitas sehari-hari dapat dilakukan, di samping mengurangi cairan yang hilang. Secara garis besar antidiare terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok absorben dan kelompok anti peristaltik. Golongan absorben bekerja dengan menyerap air dan berbagai penyebab diare seperti toksin, virus, dan mungkin juga bakteri.
Berikut ini adalah beberapa obat antidiare yang sering digunakan.
• Attapulgit - Obat ini mengandung magnesium ammonium disilicate yang berasal dari tanah liat. Obat ini berasal dari tanah liat dan memiliki efek absorben dan bekerja dengan cara menyerap toksin, asam, virus dan beberapa bakteri di dalam saluran cerna. Obat ini hanya bekerja lokal dalam saluran cerna dan tidak diabsorpsi ke dalam darah, sehingga merupakan obat yang cukup aman.
• Karbon aktif (activated charcoal) - Obat ini dikenal luas dengan nama dagang norit, memeiliki daya serap yang bagus dan biasanya digunakan untuk pertolongan pertama pada kasus keracunan. Sama seperti attapulgit, karbon aktif juga tidak diserap ke dalam darah, sehingga secara sistemik cukup aman, namun kemungkinan interaksi dengan obat lain merupakan hal yang perlu diperhatikan.
• Pektin - merupakan serat yang sangat mudah larut dan berasal dari buah apel dan jeruk. Umumnya digunakan dalam campuran dengan antidiare lain misalnya atapulgit atau kaolin.
• Bismut subsalisilat - obat ini sudah digunakan berabad-abad untuk mengobati berbagai kelainan system pencernaan.
• Loperamid - Obat ini termasuk kelompok opiod (narkotik) yang sehari-hari banyak ditemui dengan nama dagang imodium, dapat menyebabkan peninggian kadar dalam darah yang berlebihan dan mengganggu system saraf pusat. Dosis berlebihan dapat menyebabkan sembelit dan kelumpuhan usus (ileus) terutama pada anak dan orang tua, sehingga pemberian pada kelompok usia ini tidak diajurkan. Jangan diberikan pada wanita hamil, kecuali atas petunjuk dokter.
• Probiotik - mengandung lactobacillus, yaitu kuman “baik” yang berfungsi menjaga keseimbangan mikroorganisme dalam usus.
• Ekstrak tumbuhan - Beberapa bahan alam seperti ekstrak kurkuma (Curcuma domestica), daun jambu biji (psidi folium) dan teh (Camellia sinensis) sering digunakan untuk mengatasi diare. Bahan ini memgandung zat tanin yang dapat melindungi mukosa usus dan mengurangi sekresi cairan oleh mukosa usus. Selain itu pemberian jahe (Zingiber rhizoma) juga dipercaya untuk mengurangi kembung dan mual yang sering menyertai diare. Biasanya penggunaan ekstrak tumbuhan merupakan cara pengobatan yang diwariskan secara turun-temurun dan sudah dipercaya secara empiris dan terbukti efektif dan aman dalam mengatasi diare.
Antibiotik
Antibiotik tidak digunakan secara rutin, karena selain tidak efektif juga tidak jarang diikuti oleh reaksi simpang yang serius, antara lain durasi diare yang memanjang akibat disregulasi flora saluran cerna, kolitis akibat antibiotik, dan karier salmonela.
Meskipun antibiotik dapat mempersingkat perjalanan beberapa penyakit diare (misalnya Shigella, Campylobacter, travelers diarrhea), tetapi sebagian besar diare yang disebabkan oleh bakteri merupakan penyakit ‘self limited’.
|